Jumat, 05 September 2008

Shooting menggunakan handycam


2.2.2 Shooting Menggunakan Handycam

A. Tipe Penyutingan

Proses pembuatan Film baik tingkat profesional maupun pemula harus mengerti dan memahami sejumlah teknik - teknik shoting. Beberapa teknik penyotingan berkaitan dengan jenis atau tipe penyutingan. Tipe Penyutingan merupakan metode penggunaan camera dalam pengambilan gambar objek yang berkaitan dengan besar ukuran gambar yang mengisi komposisi ruang frame handycam. Berikut tipe - tipe penyutingan :

1. BCU (Big Close Up) / ECU (Extreme Close Up) adalah pengambilan gambar dengan focus pada objek tertentu secara maksimal, misal 1 bagian wajah penuh 1 layar.

2. CU (Close Up) adalah pengambilan gambar pada bagian kepala secara utuh.

3. MCU (Medium Close Up) adalah pengambilan gambar dengan objek kepala sampai dada.

4. MS (Medium Shot) adalah pengambilan gambar dengan ukuran setengah badan.

5. MFS (Medium Full Shot) adalah pengambilan gambar dengan ukuran ¾ dari badan atau sampai lutut.

6. FS (Full Shot) adalah pengambilan gambar dengan ukuran satu badan utuh dari kepala sampai kaki.

7. MLS (Medium Long Shot) adalah pengambilan gambar ukuran badan penuh dengan latar belakang tempat yang mendukung adegan.

8. LS (Long Shot ) adalah sama dengan MLS dengan ruang pandang lebih luas.

9. ELS (Extreme Long Shot) adalah pengambilan gambar dari posisi kejauhan sehingga objek terlihat kecil dengan latar belakang lebih jelas.

B. Sudut Pengambilan Gambar Dengan Handycam

Kamera angle dengan menggunakan handycam merupakan tekhnik penyutingan dengan memperhatikan posisi sudut antara handycam dengan objek untuk menghasilkan gambar yang bagus dan menarik. Pengambilan gambar yang tepat akan memperkuat pesan yang ingin disampaikan lewat gambar yang ditampilkan. Berikut jenis - jenis Angel (sudut) dalam shoting :

1. High Angle yakni posisi kamera lebih tinggi dari objek sehingga tampak objekdari atas dengan memiliki sudut kemiringan.

2. Top Angle yakni posisi kamera ada diatas objek sehingga posisi dari atas ke bawah.

3. Bird Eye View yakni posisi high angle tapi jarak lebih jauh.

4. Low Angle yakni posisi kamera lebih rendah dari objek dengan mengambil posisi membentuk sudut miring.

5. Frog Eye yakni posisi kamera ada dibawah paha.

6. Eye Level yakni pengambilan dengan ketinggian sedang atau mendatar dengan objek.

7. Profil Shot adalah sama dengan eye level akan tetapi dengan posisi ada kemiringan atau mempunyai sudut.

8. Over Sholuder adalah pengambilan gambar dari posisi belakang punggung objek.

9. Walking Shot adalah pengambilan gambar dengan posisi kamera bergerak mengikuti objek yang berjalan (situasi yang tergesa – gesa).

10. Fast Road Effect adalah pengambilan gambar pada objek yang berjalan cepat.

11. Artificial Shot adalah menambah nilai seni dan keindahan pengambilan gambar dengan menggunakan objek bantuan, missal bunga dan jeruji pintu atau jendela.

12. Reflection Shot adalah pengambilan gambar dari cermin atau bayangan objek.

13. Tripod Transition adalah gerakan kamera pada tripod.

14. Back Light Shot adalah pengambilan gambar dengan posisi kamera berhadadapan dengan sumber cahaya.

15. Door Frame Shot adalah pengambilan gambar dari luar pada pintu atau jendela yang terbuka.

16. One Shot adalah pengambilan gambar satu orang saja.

17. Two Shot adalah pengambilan gambar dengan objek dua orang.

Perferal multimedia


2.2 Periferal Multimedia

2.2.1 Kamera

Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk "ruang gelap", mekanisme awal untuk memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja kamera fotografis yang modern, kecuali tidak ada cara pada waktu itu untuk mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya. Dalam dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya. Lempeng ini akan memancarkan elektron ke lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. Dikenal banyak jenis kamera potret.

A. Komponen kamera

Sebuah kamera minimal terdiri atas:

Ø Kotak yang kedap cahaya (badan kamera)

Ø Sistem lensa

Ø Pemantik potret (shutter)

Ø Pemutar film

B. Badan kamera

Badan kamera adalah ruangan yang sama sekali kedap cahaya, namun dihubungkan dengan lensa yang darimana menjadi satu-satunya tempat cahaya akan masuk. Di dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat mengenai dan membakar film.

C. Sistem lensa

Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak, berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik atau kaca, atau sejumlah lensa yang tersusun dalam suatu silinder logam.

Tingkat penghalangan cahaya dinyatakan dengan angka f, atau bukaan relatifnya. Makin rendah angka f ini, makin besar bukaannya atau makin kecil tingkat penghalangannya. Jenis lensa cepat ataupun lensa lambat ditentukan oleh rentang nilai F yang dapat digunakan. Disamping lensa biasa, dikenal juga lensa sudut lebar (wide lens), lensa sudut kecil (tele lens), dan lensa variabel (variable lens, atau oleh kalangan awam disebut dengan istilah lensa zoom. Lensa sudut lebar mempunyai jarak fokus yang lebih kecil daripada lensa biasa. Lensa variabel dapat diubah-ubah jarak fokusnya, dengan mengubah kedudukan relatif unsur-unsur lensa tersebut. Lensa akan memfokuskan cahaya sehingga dihasilkan bayangan sesuai ukuran film. Lensa dikelompokkan sesuai panjang focal length (jarak antara kedua lensa). Focal lenght mempengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan. Dalam masyarakat umum, lebih dikenal dengan istilah zoom.

D. Pemantik Potret

Tombol pemantik potret atau shutter dipasang di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR mempunyai mekanisme pengatur waktu untuk memungkinkan mengubah-ubah lama bukaan shutter. Waktu ini ialah singkatnya pemetik potret itu membuka, sehingga memungkinkan berkas cahaya mengenai film. Beberapa masyarakat awam menganggap kemampuan kamera sebanding dengan besarnya nilai maksimum shutter speed yang bisa digunakan.

E. Jenis Kamera Berdasarkan Media Penangkap Cahaya

1) Kamera film

Jenis kamera film yang digunakan adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi populer karena keserbagunaan dan kecepatannya saat memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tidak mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan, dan kamera itu dapat memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih.

2) Kamera polaroid

Kamera jenis ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga pemotret tidak perlu melakukan proses cuci cetak film.

3) Kamera digital

Kamera jenis ini merupakan kamera yang dapat bekerja tanpa menggunakan film. Si pemotret dapat dengan mudah menangkap suatu objek tanpa harus susah-susah membidiknya melalui jendela pandang karena kamera digital sebagian besar memang tidak memilikinya. Sebagai gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD yang terpasang di belakang kamera. Lebar layar LCD pada setiap kamera digital berbeda-beda. Sebagai media penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external memory yang menggunakan memory card.

F. Jenis Kamera Berdasarkan Mekanisme Kerja

1) Kamera single lens reflect

Kamera ini memiliki cermin datar dengan singkap 45 derajat di belakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang adalah juga apa yang akan di tangkap pada film. Umumnya kamera ini digunakan setinggi pinggang ketika dipotretkan.

2) Kamera instan

Istilah instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.